Membangun Budaya Data-Driven di PELNI
Saat Setiap Keputusan Memiliki Dasar yang Jelas melalui data, analisis, dan insight yang tepat.
Pernahkah kita membayangkan berapa banyak data yang dihasilkan unit kerja kita setiap harinya? Mulai dari melakukan presensi kehadiran, transaksi penjualan, kegiatan operasional, sampai dengan interaksi dengan pelanggan, semuanya menghasilkan data. Sayangnya, tanpa kita sadari, kita belum memberikan perhatian terhadap hal sederhana yang menghasilkan data, sering kali kegiatan tersebut hanya menjadi rutinitas yang dikerjakan sebagai kebutuhan adminsitrasi, disimpan, dan tidak pernah diolah sama sekali.
Faktanya, di balik kegiatan – kegiatan tersebut, tersimpan informasi yang dapat menjawab berbagai kendala yang kita miliki di masing – masing unit kerja. Misalnya di Divisi Usaha Komersial, produk atau layanan apa yang paling diminati pelanggan? Kapan waktu yang baik untuk melakukan promosi? Kapal dan rute mana yang menjadi favorit? Bagaimana menyikapi kebiasaan pelanggan? Dan lainnya yang seharusnya tidak lagi dijawab berdasarkan asumsi atau pengalaman semata, melainkan melalui data yang telah dianalisis dengan baik.

Kesadaran akan pentignnya sebuah data yang kemudian mendorong saya untuk mengikuti Pelatihan Data Analisis Level 1 yang diselenggarakan oleh Divisi Learning and Development. Sebagai bagian dari Divisi Usaha Komersial PT PELNI (Persero), saya melihat bahwa kemampuan mengolah data menjadi insight adalah kompetensi yang penting, khususnya dalam optimalisasi berbagai layanan komersial yang customer oriented. Harapan saya setelah mengikuti pelatihan ini tidak berheti hanya sebagai pengetahuan baru saja, melainkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya kerja berorientasi data (data driven) pada setiap pertanyaan maupun kendala yang dialami.
Selama periode Pelatihan Data Analisis Level 1, kami dikenalkan tahapan lengkap dalam memproses data, dimulai dengan pengumpulan, pembersihan (data cleaning), modeling data, hingga sajian data yang komunikatif melalui dashboard visual yang interaktif (menggunakan aplikasi Power BI).
Dalam praktik pembuatan dashboard, saya mengambil objek Penjualan Layanan Internet Komersial (SEAWIFI) untuk dikelola sehingga terakomodir dalam sebuah dashboard pengelolaan penjualan yang jelas, efektif, dan mudah dipahami. Para speakers dari Hactiv8 membantu kami dalam memahami berbagai indikator penting sehingga menghasilkan sajian yang informatif melalui sebuah dashboard seperti informasi tren penjualan, performa produk, distribusi transaksi berdasarkan periode, metode pembayaran, dan kapal tertentu.
Melalui project yang saya kembangkan, saya menyadari bahwa dashboard tersebut tidak hanya berisi grafik yang menarik saja, melainkan kemudahan kita dalam mengenal produk atau layanan kita. Melalui sajian dashboard tersebut, kita dapat menemukan pola, mengenali peluang, bahkan mendeteksi potensi permasalahan lebih dini, keputusan pun menjadi jauh lebih cepat ditentukan dan objektif.

Pembelajaran terbesar yang saya dapat selain dari pembuatan dashboard, namun cara pandang kita terhadap data itu sendiri. Selama ini, mindset kita menganggap bahwa adalah hasil akhir dari sebuah proses kerja. Padahal, data tersebut merupakan titik awal bagaimana kita memahami sebuah kondisi dan menentukan langkah berikutnya.
Melalui pendekatan business intelligence dalam konteks penjualan produk dan layanan komersial, saya memahami bahwa setiap transaksi menghasilkan data yang penting. Kumpulan transaksi dapat menunjukan perilaku dan referensi pelanggan, tren pasar, hingga peluang dalam meningkatkan pendapatan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Ketika informasi tersebut diterjemahkan menjadi insight, perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat dalam menyusun strategi maupun mengevaluasi kinerja.
Dashboard yang dikembangkan dapat menjadi titik awal dalam membangun proses pengambilan keputusan yang berbasis data (data driven). Misalnya, manajamen dapat dengan cepat mengetahui produk internet yang paling diminati, waktu transaksi dengan aktivitas tertinggi, kapal dengan penjualan terbaik, dan lain sebagainya. Insight tersebut diolah menjadi penyusunan program pemasaran dan promosi penjualan, pengembangan layanan dan produk, penentuan prioritas peningkatan layanan, serta optimalisasi layanan baru lainnya.
Selain itu, pembelajaran ini memperkuat keyakinan bahwa kompetensi analisis data wajib dimiliki oleh setiap unit kerja, tidak hanya di level staff namun juga di level pembuat keputusan. Dengan memahami data, kita tidak hanya mengetahui apa yang terjadi tetapi mulai memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi dan menentukan solusi apa yang harus dilakukan.
Sebagai bagian dari Divisi Usaha Komersial, saya melihat peluang untuk menerapkan hasil Pembelajaran Data Analisis pada pengelolaan Layanan Internet Komersial (SEAWIFI). Data transaksi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar penyusunan strategi bisnis sehingga tidak sebatas fungsi laporan penjualan saja.
Pendekatan data analisis ini membiasakan kita untuk selalu berkomunikasi berbasis data, terlebih dalam menjawab hal – hal yang berkaitan dengan kinerja perusahaan. Dengan demikian, setiap keputusan memiliki dasar yang jelas dan setiap strategi dapat diukur keberhasilannya secara objektif.

Transformasi digital tidak selalu dimulai dari teknologi yang paling canggih. Sering kali, langkah pertama justru dimulai dari perubahan cara memanfaatkan data yang telah dimiliki perusahaan. Ketika data mampu diolah menjadi informasi, kemudian berkembang menjadi insight, lalu diwujudkan menjadi aksi nyata, maka data telah memberikan nilai yang sesungguhnya bagi organisasi.
Melalui pengalaman dalam mengikuti Diklat Data Analisis Level 1, saya percaya bahwa membangun budaya data-driven tidak terbatas hanya tentang menggunakan Power BI atau membuat dashboard yang menarik, namun juga bagaimana kita mengubah mindset kita terhadap data dan informasi sebagai dasar dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menguntungkan.
Sebagai insan AKHLAK, membiasakan hal tersebut akan menciptakan budaya data driven yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan kerja. Saya berharap kegiatan ini tidak terbatas sebagai diklat yang diisi oleh perwakilan setiap unit kerja namun ilmu dan penerapannya dapat dirasakan oleh seluruh Insan PELNI. Pada akhirnya, budaya kerja yang didukung oleh data akan membantu perusahaan menjadi lebih adaptif, lebih responsif terhadap perubahan, dan lebih siap dalam menghadapi tantangan bisnis di masa depan.
Â