Sharing Center

Penerapan Microsoft Power BI dalam Mendukung Pengelolaan Data Kelayakan Gedung

1. Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong perubahan dalam cara organisasi mengelola dan memanfaatkan data. Data yang sebelumnya hanya digunakan sebagai arsip atau bahan pelaporan kini dapat diolah menjadi informasi yang mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat, tepat, dan objektif. Dalam lingkungan kerja yang memiliki jumlah aset, dokumen, serta proses administrasi yang cukup kompleks, kemampuan mengelola dan memvisualisasikan data menjadi salah satu kompetensi yang semakin penting.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, saya mengikuti pelatihan Microsoft Power BI yang membahas mengenai data analytics, pengolahan data, visualisasi data, data storytelling, serta pemanfaatan dashboard untuk mendukung proses analisis dan pengambilan keputusan. Pelatihan ini memberikan pemahaman bahwa data tidak hanya perlu dikumpulkan dan disimpan, tetapi juga harus dipastikan kualitasnya, dianalisis, kemudian disajikan dalam bentuk informasi yang mudah dipahami oleh pengguna.

Materi pelatihan memiliki relevansi yang kuat dengan pekerjaan saya sebagai Staff Kelayakan Gedung, khususnya dalam pengelolaan data terkait Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), serta berbagai dokumen dan sertifikat kelayakan bangunan lainnya. Dengan memanfaatkan Power BI, data yang selama ini tersebar dalam berbagai tabel, dokumen, dan laporan dapat dikembangkan menjadi sistem informasi visual yang membantu proes monitoring, evaluasi, dan penyusunan laporan.

2. Materi yang Dipelajari Selama Pelatihan

Pelatihan diawali dengan pemahaman mengenai data. Data dipahami sebagai kumpulan informasi yang dapat berasal dari berbagai sumber dan memiliki bentuk yang beragam. Dalam proses analisis, data perlu dikumpulkan, dibersihkan, disusun, dan diolah sebelum dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat. Salah satu materi penting yang dipelajari adalah mengenai jenis dan karakteristik data, termasuk data kualitatif dan kuantitatif, data diskrit dan kontinu, serta data berdasarkan formatnya seperti data terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur. Pemahaman tersebut penting karena karakteristik data akan menentukan metode pengolahan dan visualisasi yang sesuai.

Selanjutnya, pelatihan membahas proses analisis data, mulai dari menentukan permasalahan, mengumpulkan data, membersihkan dan menyiapkan data, melakukan analisis, hingga menginterpretasikan hasil dan menyusun rekomendasi. Dari materi ini dapat dipahami bahwa kualitas hasil analisis sangat dipengaruhi oleh kualitas data yang digunakan. Pelatihan juga memperkenalkan beberapa pendekatan analisis, yaitu descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, dan prescriptive analytics. Pendekatan tersebut memberikan pemahaman bahwa analisis data tidak hanya bertujuan mengetahui kondisi yang telah terjadi, tetapi juga dapat digunakan untuk mencari penyebab, memperkirakan kondisi mendatang, serta membantu menentukan tindakan yang sebaiknya dilakukan.

Pada bagian visualisasi data, dipelajari penggunaan berbagai jenis grafik, antara lain bar chart, pie chart, dan line chart. Setiap jenis grafik memiliki fungsi yang berbeda. Bar chart lebih sesuai untuk membandingkan kategori, line chart efektif untuk melihat perkembangan atau tren dari waktu ke waktu, sedangkan pie chart dapat digunakan untuk melihat komposisi suatu keseluruhan apabila jumlah kategorinya terbatas. Materi selanjutnya adalah data storytelling, yaitu bagaimana data, visualisasi, dan narasi digabungkan sehingga informasi dapat disampaikan secara lebih efektif kepada pengguna. Dengan pendekatan ini, sebuah dashboard tidak hanya menampilkan angka, tetapi juga membantu menjelaskan apa yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, serta tindakan apa yang dapat dipertimbangkan. Seluruh materi tersebut kemudian diarahkan pada penggunaan Microsoft Power BI sebagai salah satu perangkat untuk mengolah, menganalisis, dan menyajikan data secara interaktif.

3. Pembelajaran yang Didapat

Salah satu pembelajaran utama yang saya dapatkan dari pelatihan ini adalah bahwa data yang banyak belum tentu menghasilkan informasi yang baik apabila tidak dikelola dengan benar. Data perlu memiliki struktur, konsistensi, dan kualitas yang memadai agar dapat digunakan sebagai dasar analisis. Saya juga memperoleh pemahaman bahwa visualisasi data bukan sekadar membuat grafik agar laporan terlihat menarik. Pemilihan bentuk visual harus disesuaikan dengan tujuan analisis.

Misalnya, dalam monitoring masa berlaku sertifikat, grafik tren akan lebih informatif dibandingkan grafik yang hanya menunjukkan jumlah keseluruhan dokumen. Pembelajaran lainnya adalah pentingnya membangun data storytelling. Dalam pekerjaan, suatu informasi sering kali perlu disampaikan kepada atasan atau pihak lain yang tidak memiliki waktu untuk membaca seluruh data mentah. Oleh karena itu, informasi harus dapat diringkas menjadi indikator utama, tren, permasalahan, dan rekomendasi yang mudah dipahami.

Pelatihan juga membuka pemahaman bahwa Power BI dapat digunakan sebagai alat monitoring yang lebih dinamis dibandingkan laporan tabel konvensional. Data yang telah terintegrasi dapat ditampilkan melalui dashboard dan diperbarui secara berkala sehingga pengguna dapat memperoleh gambaran kondisi terbaru tanpa harus melakukan pengolahan data dari awal.

4. Implementasi Dalam Pekerjaan Sebagai Staff Kelayakan Gedung

Materi yang diperoleh dari pelatihan memiliki peluang penerapan yang sangat besar dalam pekerjaan saya sebagai Staff Kelayakan Gedung. Salah satu penerapan yang dapat dikembangkan adalah Dashboard Monitoring Legalitas dan Kelayakan Gedung. Dashboard tersebut dapat mengintegrasikan informasi aset gedung dengan berbagai dokumen pendukung, seperti SHGB, PBG, SLF, serta sertifikat atau dokumen kelayakan lainnya. Setiap aset dapat memiliki informasi mengenai nomor dokumen, lokasi, luas, tanggal penerbitan, tanggal berakhir, status dokumen, serta tindak lanjut yang diperlukan.

Sebagai contoh, data SHGB dapat dikategorikan menjadi beberapa status seperti aktif, segera berakhir, dan telah berakhir. Dengan Power BI, jumlah aset pada setiap kategori dapat ditampilkan melalui kartu indikator dan grafik. Selain itu, dapat dibuat grafik tren yang menunjukkan jumlah sertifikat yang akan berakhir pada setiap tahun. Informasi tersebut akan sangat membantu dalam menentukan prioritas pengurusan perpanjangan hak atas tanah. Penerapan serupa dapat dilakukan untuk SLF. Dashboard dapat menampilkan jumlah gedung yang memiliki SLF aktif, SLF yang mendekati masa berakhir, serta gedung yang belum memiliki atau masih dalam proses pengurusan SLF. Dengan demikian, proses monitoring tidak lagi hanya mengandalkan pengecekan satu per satu terhadap file Excel atau dokumen administrasi.

Untuk PBG, dashboard dapat digunakan untuk memonitor tahapan proses perizinan. Misalnya, status dapat dibagi menjadi tahap pengumpulan dokumen, verifikasi, proses pengajuan, evaluasi, perbaikan dokumen, hingga PBG telah terbit. Visualisasi tersebut dapat membantu mengetahui jumlah pekerjaan pada masing-masing tahapan dan mengidentifikasi proses yang membutuhkan tindak lanjut. Power BI juga dapat digunakan untuk membuat prioritas tindak lanjut berdasarkan tingkat urgensi. Misalnya, aset dengan sertifikat yang telah berakhir dapat ditempatkan sebagai prioritas tinggi, dokumen yang akan berakhir dalam satu sampai dua tahun sebagai prioritas menengah, sedangkan dokumen yang masa berlakunya masih panjang dapat dimonitor secara berkala.

Selain monitoring status, data dapat dikembangkan menjadi analisis yang lebih strategis. Contohnya adalah analisis jumlah dokumen yang akan berakhir berdasarkan tahun, wilayah, cabang, jenis aset, maupun jenis sertifikat. Dari informasi tersebut, dapat dilakukan perencanaan kebutuhan pekerjaan, anggaran, koordinasi dengan unit terkait, serta penyusunan jadwal pengurusan dokumen secara lebih sistematis. Implementasi lainnya adalah pembuatan dashboard untuk mendukung pelaporan kepada manajemen. Daripada menyampaikan tabel panjang yang berisi ratusan aset, informasi dapat diringkas menjadi beberapa indikator utama, grafik, dan daftar aset yang memerlukan perhatian. Dengan demikian, manajemen dapat lebih cepat memahami kondisi aset dan menentukan keputusan yang diperlukan.

Dalam jangka panjang, konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi satu basis data kelayakan gedung yang mengintegrasikan data legalitas tanah, legalitas bangunan, kelayakan fungsi, serta status tindak lanjut. Dashboard Power BI kemudian berfungsi sebagai lapisan visualisasi yang membantu pengguna melihat kondisi aset secara menyeluruh.

5. Penutup

Pelatihan Microsoft Power BI memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan dan pengambilan keputusan. Materi mengenai data analytics, data cleaning, visualisasi, pemilihan grafik, dan data storytelling memberikan dasar yang kuat untuk mengelola data secara lebih sistematis dan komunikatif.

Bagi saya sebagai Staff Kelayakan Gedung, kemampuan tersebut dapat diterapkan secara nyata dalam pengelolaan data SHGB, PBG, SLF, dan berbagai dokumen kelayakan bangunan. Penggunaan Power BI berpotensi meningkatkan efektivitas monitoring, mengurangi ketergantungan terhadap pemeriksaan data secara manual, mempercepat penyusunan laporan, serta membantu mengidentifikasi dokumen yang membutuhkan tindak lanjut.

Ke depannya, pemanfaatan Power BI tidak hanya diharapkan menjadi alat untuk membuat laporan, tetapi dapat dikembangkan sebagai alat bantu manajemen aset dan kelayakan gedung. Dengan data yang terstruktur dan dashboard yang informatif, proses pengelolaan legalitas serta kelayakan aset dapat dilakukan secara lebih proaktif, terukur, dan berbasis data. Hal ini pada akhirnya dapat mendukung terciptanya pengelolaan aset gedung yang lebih tertib, efektif, dan berkelanjutan di lingkungan perusahaan.

HILMI NUR AKBAR
Staff Perencanaan Gedung Perkantoran

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    0 %