Belajar P3K dan Pelatihan Kebakaran, Biar Nggak Panik Saat Keadaan Darurat
1. Pendahuluan
Kerja di lingkungan yang berhubungan dengan orang banyak itu punya tantangan sendiri. Apalagi di pelabuhan. Penumpang datang dari berbagai latar belakang: ada yang lansia, ibu hamil, anak kecil, orang dengan riwayat penyakit tertentu, sampai penumpang yang kelelahan karena perjalanan jauh. Kalau dipikir-pikir, situasi darurat itu datang tanpa undangan. Bisa berupa rekan kerja yang tiba-tiba jatuh pingsan, kecelakaan kecil di kantor, sampai potensi kebakaran yang awalnya cuma dari colokan listrik.
Itulah kenapa saya merasa Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) yang saya ikuti ini relevan banget dengan pekerjaan saya di PT. PELNI (Persero). Pelatihan ini bukan sekadar formalitas atau pemenuhan kewajiban, tapi benar-benar membekali kita supaya nggak panik dan tahu harus ngapain saat kejadian darurat benar-benar terjadi. Kita memang bukan tenaga medis atau petugas pemadam kebakaran, tapi setidaknya tahu apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan bagaimana cara kita melakukannya.
Tujuan utama pelatihan ini sederhana tapi krusial, yaitu memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar agar kita bisa memberikan pertolongan pertama dengan benar kepada korban kecelakaan atau sakit mendadak serta ketika terjadinya kebakaran di area kerja, termasuk di pelabuhan, sebelum tenaga profesional datang.
Secara pribadi, pelatihan ini bikin saya lebih percaya diri. Secara profesional, ini sejalan dengan peran PELNI sebagai BUMN transportasi laut yang melayani publik. Karena keselamatan dan kenyamanan penumpang itu bukan cuma soal kapal yang laik laut, tapi juga soal kesiapan orang-orang di darat.
2. Materi yang Dipelajari
Satu hal yang langsung ditekankan sejak awal pelatihan adalah, P3K itu perawatan dasar, bukan tindakan medis lanjutan. Jadi, tidak ada suntik, tidak ada obat, dan tidak ada tindakan ekstrem. Fokusnya adalah menjaga korban tetap stabil dan aman sambil menunggu bantuan tenaga medis profesional datang.
Ternyata, jumlah petugas P3K di tempat kerja itu sudah diatur. Untuk tempat kerja dengan risiko rendah, idealnya ada 1 petugas P3K untuk 150 pekerja. Sementara untuk risiko tinggi, rasionya lebih ketat, yaitu 1 petugas untuk 100 pekerja. Kotak P3K pun nggak asal ada. Ada tipe A, B, dan C yang disesuaikan dengan jumlah pekerja. Jadi bukan sekadar formalitas, tapi memang dirancang biar siap dipakai.

Materi paling krusial adalah soal prosedur P3K. Ketika di pelabuhan, situasi bisa cepat berubah. Ada kendaraan, tangga kapal, arus penumpang, bahkan cuaca. Bagian ini menurut saya paling “nempel”. Saat ada kejadian darurat, yang pertama dicek itu bukan korban, melainkan diri kita sendiri. Aman atau nggak? Ada potensi bahaya susulan atau tidak? Misalnya api, listrik, kendaraan, bangunan, sampai risiko penyakit. Maka, prinsip pertama adalah jaga keselamatan diri sendiri. Jangan sampai niat nolong justru bikin kita jadi korban berikutnya.
Setelah aman, baru lakukan penilaian terhadap korban. Mulai dari cek respons dengan cara dipanggil, ditepuk bahunya, cek luka dari kepala sampai kaki korban, dan cek napasnya. Kalau korban sadar, kita bisa tanya keluhan dan kronologinya. Kalau ternyata korban tidak bernapas setelah 10 detik, di situlah CPR mulai dibutuhkan.
CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau dalam bahasa indonesia disebut RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah tindakan darurat untuk korban yang tidak bernapas atau jantungnya berhenti. CPR sendiri ada 2 teknik, yaitu :
- CPR dengan Pijatan dan pemberian Napas Buatan = Ini dilakukan dengan 30x pijatan dan dilanjutkan 2x napas buatan, lakukan berulang.
- CPR Hands only = Hanya pijatan saja tanpa napas buatan.
Menariknya, pelatihan ini menekankan bahwa CPR hands only (hanya pijatan) justru punya tingkat keberhasilan tinggi dan lebih mudah dilakukan oleh orang awam, karena sederhana dan efektif.
CPR sendiri tidak bisa asal memijat dada korban, tekniknya pun spesifik tergantung korbannya:
-
Dewasa: tekanan di tengah dada diantara kedua puting, tangan lurus tegak dengan dada, tekan menggunakan bahu dengan kedalaman 4–6 cm
-
Anak: Tekan dengan satu tangan
-
Bayi: Tekan dengan dua jari
CPR dilakukan sampai korban bernapas kembali, penolong kelelahan, atau tim medis profesional datang dan mengambil alih.
Selanjutnya, semisal korban tidak sadar tapi masih bernapas, ada teknik yang namanya posisi pemulihan (recovery position) yaitu dengan memiringkan tubuh korban ke kanan. Tujuannya supaya jalan napas tetap terbuka, lidah tidak jatuh ke belakang, dan cairan seperti muntah bisa keluar dengan aman. Posisi pemulihan juga sangat relevan. Bayangkan ada penumpang pingsan di ruang tunggu atau di area embarkasi. Memiringkan tubuh korban dengan benar bisa membantu menjaga jalan napas tetap terbuka dan mencegah kondisi bertambah parah.

Masuk ke materi Damkar, fokusnya bukan langsung “Bagaimana cara memadamkan api”, tapi justru kita harus memahami perilaku api. Kebakaran didefinisikan sebagai api yang tidak terkendali dan merugikan. Api bisa muncul kalau tiga unsur ini ketemu, yang biasa disebut segitiga api:
-
Bahan bakar
Bisa padat (kayu, kertas), cair (bensin, minyak), atau gas (LPG). Menariknya, bahan padat dan cair sebenarnya harus berubah jadi gas dulu sebelum bisa terbakar. -
Oksigen
Kebakaran butuh oksigen minimal 16%. Di udara normal (21%), api bisa menyala dengan sangat baik. Di bawah 16%, api dan bahkan manusia pun kesulitan “hidup”. -
Sumber panas
Bisa dari listrik, gesekan mekanik, reaksi kimia, sampai panas matahari. Colokan listrik, percikan, dan gesekan mesin.
Pelatihan ini juga mengenalkan cara penyebaran api yaitu melalui tiga mekanisme:
-
Radiasi: panas merambat lewat gelombang
-
Konduksi: panas pindah lewat benda penghantar
-
Konveksi: udara panas naik ke atas
Makanya, api di satu titik bisa “menular” ke area lain tanpa kita sadari.
Masuk ke materi APAR (Alat Pemadam Api Ringan), APAR itu dirancang untuk api awal, bisa dibawa satu orang, dan beratnya maksimal 16 kg. Jenis medianya pun beda-beda:
-
Dry Chemical Powder: paling umum, efektif untuk kelas A, B, dan C
-
Foam/Busa: cocok untuk kebakaran cairan
-
Air: efektif untuk kebakaran kelas A
-
CO₂: cocok untuk ruangan tertutup, aman untuk listrik
Kami juga belajar teknik menggunakan APAR yaitu Teknik PASS:
-
Pull: tarik pengaman
-
Aim: arahkan ke sumber api
-
Squeeze: tekan handle
-
Sweep: sapukan kiri-kanan

3. Pembelajaran yang Didapat
Dari P3K dan Damkar, pelajaran terbesarnya adalah: situasi darurat tidak butuh orang paling pintar, tapi orang yang paling siap dan paling tenang.
Saya belajar bahwa kepanikan sering muncul karena tidak tahu harus berbuat apa. Begitu kita paham alur dasar dan cara penanganannya, situasi yang genting jadi bisa lebih terkendali, meskipun tetap serius.
Ada juga soft skill yang ikut terasah: empati, keberanian bertindak, dan kesadaran bahwa keselamatan itu urusan bersama, bukan tanggung jawab satu-dua orang saja.
4. Implementasi dalam Pekerjaan
Ilmu P3K ini sangat mungkin diterapkan langsung di lingkungan kerja PELNI, khususnya di pelabuhan, misalnya:
-
Mengetahui lokasi kotak P3K di area pelabuhan dan kantor cabang
-
Mengingat dan menyebarkan informasi nomor darurat (112, 119)
-
Bersikap sigap saat ada penumpang pingsan, terjatuh, atau sesak napas
-
Berkoordinasi cepat dengan petugas pelabuhan, keamanan, dan tenaga medis
Kalau petugas PELNI di darat punya pemahaman P3K yang baik, pelayanan ke penumpang jadi lebih responsif. Bukan cuma soal administrasi atau jadwal keberangkatan, tapi juga rasa aman yang dirasakan penumpang sejak mereka menginjakkan kaki di pelabuhan.
Sedangkan untuk materi pemadam kebakaran, secara realistis, ada banyak hal yang bisa langsung diterapkan:
-
Lebih aware terhadap sumber panas dan listrik di area kerja
-
Tahu lokasi APAR dan jalur evakuasi
-
Tidak asal bertindak saat kebakaran, tapi mengikuti prosedur
-
Ikut mendukung simulasi evakuasi, bukan sekadar formalitas
Kalau ini dijalankan bareng-bareng, manfaatnya besar. Bukan cuma mengurangi risiko kebakaran, tapi juga membangun budaya kerja yang peduli keselamatan.
5. Penutup
Pelatihan P3K dan Damkar ini mengajarkan saya satu hal penting: kecelakaan dan kebakaran bisa terjadi kapan saja, tapi dampaknya bisa ditekan kalau kita siap. Kesiapan itu bukan soal alat mahal atau keahlian tinggi, tapi soal pengetahuan dasar dan sikap yang benar. Pelatihan ini mengingatkan saya bahwa bekerja di PT. PELNI berarti siap melayani para penumpang, dengan segala kondisi dan risikonya. Keselamatan penumpang bukan hanya urusan kapal dan pelayaran, tapi juga kesiapan kita sebagai petugas di darat.
Key takeaway-nya sederhana: jangan panik, pahami risikonya, dan bertindak sesuai prosedur. Ke depan, saya berharap pengetahuan ini bisa terus diterapkan dan dibagikan, sehingga budaya keselamatan di lingkungan PT PELNI, baik di pelabuhan maupun di kantor semakin kuat dan nyata. Karena keselamatan kerja bukan urusan satu orang atau satu unit saja, tapi hasil dari kesadaran bersama. Semoga pembelajaran ini dapat menjadi bekal saat kita dihadapkan pada situasi darurat.