Sharing Center

International Seminar: Strategies for Managing Challenges in Investigative Interviewing

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bersama Asosiasi Auditor Forensik Indonesia (AAFI) menyelenggarakan The 1st AAFI International Seminar bertajuk “Strategies for Managing Challenges in Investigative Interviewing” sebagai upaya memperkuat kompetensi wawancara investigatif dalam audit forensik. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 13 Januari2026 secara luring di Auditorium Badiklat PKN.

Seminar ini secara khusus membahas berbagai tantangan yang kerap dihadapi auditor dan investigator di lapangan, antara lain menghadapi pihak terwawancara yang defensif, tidak kooperatif, atau memberikan informasi yang tidak langsung dan berbelit. Tantangan tersebut menuntut auditor memiliki strategi komunikasi yang efektif sekaligus tetap menjunjung tinggi prinsip etika pemeriksaan.

Seminar ini diharapkan dapat menjadi wadah knowledge sharing sekaligus penguatan kapasitas pemeriksa, serta mendorong penyelarasan praktik wawancara investigatif dengan standar etika dan metodologi global dalam rangka mendukung akuntabilitas publik.

Seminar ini dihadiri oleh Wakil Ketua BPK Budi Prijono, Anggota I BPK Nyoman Adhi Suryadnyana, Anggota III BPK Akhsanul Khaq, para Pejabat Tinggi Madya dan Pratama BPK, serta tamu undangan dari kementerian dan lembaga.

Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Ray Bull, Profesor Emeritus Psikologi Forensik dari University of Leicester, Inggris, yang memaparkan pentingnya penerapan metode wawancara investigatif berbasis pengumpulan informasi yang etis dan andal.

MATERI SEMINAR

“Strategies for Managing Challenges in Investigative Interviewing”

By Profesor Ray Bull

Profesor Ray Bull merupakan tokoh sentral dalam pengembangan wawancara investigatif modern, antara lain:

  1. Penyusun awal pedoman Praktik Baik tentang wawancara rekaman video saksi anak di Inggris.
  2. Salah satu penulis dari ‘Korkman, J, Otgaar, H, Geven, L., Bull, R. et al. (2024). White paper on forensic child interviewing: Researchbased recommendations by the European Asosiasi Psikologi dan Hukum. Psikologi, Kejahatan dan Hukum, 31(8),987-1030.
  3. Kontributor utama pengembangan metode PEACE sejak awal 1990-an.
  4. Anggota Komite PBB penyusun Prinsip-Prinsip Mendez tentang Wawancara Efektif (2017–2021).
  5. Penasihat berbagai negara dalam reformasi praktik wawancara investigatif.

Wawancara investigatif merupakan inti dari proses pencarian kebenaran dalam penyelidikan pidana, audit investigatif, dan pemeriksaan forensik. Praktik lama yang bersifat memaksa, menekan, dan berorientasi pada pengakuan terbukti menghasilkan pengakuan tidak andal, kesalahan penghukuman, serta pelanggaran HAM.

  1. Banyak pengakuan diperoleh melalui tekanan fisik/psikologis sehingga berdampak pada pengakuan palsu (False confession);
  2. Terjadi pembatalan putusan pengadilan karena salah hukum (Wrongful Convition);
  3. Bukti yang tidak kuat di Pengadilan;
  4. Kepercayaan Publik rapuh;

Sejumlah kasus salah tangkap dan kritik pengadilan Inggris memaksa perubahan. Pengakuan yang diperoleh lewat tekanan tidak lagi dianggap andal. Aparat butuh metode yang:

  1. Etis
  2. Berbasis bukti
  3. Tahan uji hukum

Hal ini menegaskan bahwa wawancara investigatif bukan percakapan biasa, melainkan keterampilan profesional yang harus dipelajari dan dilatih secara sistematis. Di sinilah psikologi forensik masuk, dengan tokoh sentralnya Adalah Ray Bull Bersama peneliti lain yang mendorong wawancara penggalian informasi bukan pemaksaan. Penelitian menunjukkan:

  1. Ingatan manusia mudah terdistorsi oleh sugesti & tekanan
  2. Pertanyaan tertutup/agresif mengkontaminasi narasi
  3. Wawancara terstruktur & terbuka meningkatkan akurasi

Lahirnya PEACE awal tahun 1990-an di Inggris sebagai standar nasional untuk wawancara investigative, yaitu :

  1. Planning & Preparation – perencanaan berbasis bukti dan tujuan pembuktian
  2. Engage & Explain – membangun hubungan dan menjelaskan proses
  3. Account, Clarification & Challenge – memperoleh narasi bebas dari narasumber
  4. Closure – klarifikasi dan penutup yang adil
  5. Evaluation – evaluasi kualitas wawancara

Tujuan utama dari metode ini adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan dapat diuji.

Metode PEACE sampai saat masih bertahan dan menyebar dikarenakan metode lama yang gagal. Tekanan menghasilkan noise sedangkan struktur menghasilkan  fakta, sebagai berikut :

  1. Lebih akurat (minim bias & sugesti)
  2. Lebih etis (hak subjek dihormati)
  3. Lebih kuat di pengadilan (defensible)
  4. Adaptif lintas konteks: kriminal, intelijen, audit, investigasi internal

Berikut keterampilan PALING SULIT dalam wawancara investigative yang di lapangan sering gagal, bahkan oleh investigator berpengalaman, sebagai berikut :

  1. Mengendalikan Bias Diri Sendiri
    • Hanya mendengar yang cocok dengan dugaan awal
    • Labelling dini (dia pasti pelaku)
    • Overconfidence karena senioritas
  2. Menahan Diri untuk Tidak Menginterogasi
    • Memotong cerita
    • Menggiring pertanyaan
    • Nada menghakimi
  3. Menggali Informasi Tanpa Pertanyaan Sugestif

Pertanyaan Sugestif menyisipkan asumsi, penilaian atau arah jawaban kedalam pertanyaan. Hal ini bisa menyebabkan responden tidak lagi menceritakan apa yang terjadi, tapi bereaksi terhadap asumsi pewawancara.

  1. Mengelolan Beban Kognitif (Cognitif Load)

Saat wawancara, investigator harus sekaligus:

    • Mendengar aktif
    • Menganalisis konsistensi
    • Mengingat dokumen
    • Menjaga emosi
    • Menyusun pertanyaan lanjutan
  1. Mendeteksi Ketidakkonsistenan Tanpa Konfrontasi Emosional

Ini seni tingkat tinggi:

    • Menandai inkonsistensi
    • Menguji ulang dengan bukti
    • Tanpa memancing defensif
  1. Menghadapi Responden Dominan atau Manipulatif

Contoh: Bicara berputar-putar, Menekan balik investigator, Bermain peran korban

👉 Sulit karena butuh kendali struktur, bukan adu emosi.

  1. Menjaga Netralitas Saat Ada Tekanan Eksternal

Tekanan bisa datang dari Atasan, Target waktu, Ekspektasi “harus ada pelaku”

👉 Netralitas sering kalah oleh deadline & ekspektasi organisasi.

  1. Menutup Wawancara Secara Bersih dan Defensible

Diharuskan membuat Rekap fakta, Konfirmasi pemahaman, Jelaskan langkah lanjutan agar tidak ada salah tafsir di belakang hari.

Apakah PEACE Model Efektif?

  1. Bukti Akademik: Efektif untuk Kualitas Informasi

Berbagai riset psikologi forensik menunjukkan bahwa wawancara berbasis PEACE:

    • Menghasilkan informasi lebih banyak dan lebih akurat
    • Mengurangi false confession
    • Menurunkan kontaminasi memori akibat sugesti
  1. Efektif Secara Hukum & Tata Kelola

PEACE menjadi standar di Inggris dan diadopsi luas karena:

    • Prosesnya defensible (tahan uji di pengadilan)
    • Menghormati hak subjek
    • Dokumentasi lebih rapi & dapat ditelusuri

Dalam konteks investigasi internal/audit:

    • Temuan lebih sulit dibantah
    • Risiko gugatan prosedural lebih rendah
    • Kredibilitas investigator meningkat
  1. Efektif untuk Kasus Kompleks (Bukan Kasus Mudah)

PEACE justru unggul ketika:

    • Banyak aktor & kepentingan
    • Dokumen saling bertabrakan
    • Fakta tersembunyi di balik prosedur formal

Metode ini tidak mengejar pengakuan cepat, tapi memetakan realitas.

Tapi… di Mana PEACE Gagal?

Metode PEACE menjadi gagal apabila :

  • Investigator sudah mengunci kesimpulan di awal
  • Dipakai sekadar formalitas SOP
  • Waktu sangat sempit tapi ekspektasi “harus ada pelaku”
  • Pewawancara tidak terlatih mengelola bias & bahasa
SUNDARI
Ditugaskan di PT SBN

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    0 %