Pedoman Penyusunan Kuesioner
Dalam penelitian ilmu sosial untuk menyusun tesis, seringkali pengumpulan data dengan instrumen atau alat peneletian berbentuk kuesioner/ angket/ daftar pertanyaan (questionary). Umumnya data dalam ilmu sosial bersifat kualitatif dan kebanyakan merupakan konsep mengenai berbagai fenomena sosial ang abstrak dan tidak dapat diraba atau dirasa dengan pancaindera. Untuk itu, diperlukan teknik membuat skala dengan cara mengubah data kualitatif menjadi suatu urutan kuantitatif, yakni dalam bentuk angka, sehingga dapat diolah dengan statistik.
Pokok-pokok bahasan yang perlu diperhatikan untuk menyusun penyusunan kuesioner adalah sebagai berikut
- Penyusunan Kuesioner berdasarkan Kisi-Kisi Variabel. Kisi-kisi variabel adalah hasil pemilahan variabel-variaele penelitian. Langkah awal adalah memilah variabel menjadi beberapa dimensi, karena variabel-variabel penelitian sosial umumnya memiliki lebih dari satu dimensi. Dalam hal ini, pemilihan variabel wajib diacu dari teori atau pendapat ahli. Oleh karena itu, wajib pula disebutkan sumber acuannya. Setelah itu, dijabarkan atau dipilah-pilah masing-masing dimensi menjadi beberapa indikator yang dapat diukur. Akhirnya, indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun pertanyaan penelitian. Dalam hal ini, pemilihan indikator boleh diacu dari teori atau pendapat para ahli, namun biasanya pemilihan indikator dilakukan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman peneliti, karena kerap dalam penelitian sosial bahwa indikator dari suatu variabel tersebut belum ada teorinya.
- Penggunaan Bahasa. Penyusunan kuesioner pada umumnya ditulis dengan Bahasa Indonesia. Hal ini perlu ditinjau, karena kebanyakan responden, khususnya di pedesaan terpencil, kurang dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Untuk itu, penggunaan bahasa dalam penyusunan kuesioner harus disesuaikan dengan bahasa yang digunakan oleh responden. Jika responden hanya mampu bahasa daerah setempat, maka kuesioner dibuat terjemahannya dalam bahasa daerah tersebut, atau dibutuhkan seorang penerjemah langsung agar responden mengerti. Jika responden tidak bisa membaca, buta huruf atau faktor usia, maka pencacah sebaiknya membacakan pertanyaannya dan mencontreng atau menuliskan jawaban responden. Jadi, bahasa yang digunakan dalam penyusunan kuesioner harus memperhatikan jenjang pendidikan, keadaan sosial budaya, dan juga faktor usia responden.
- Pertanyaan tidak Ganda. Setiap pertanyaan dalam kuesioner jangan sekaligus menanyakan lebih dari satu hal, agar tidak menyulitkan responden untuk memberikan jawaban. Misalnya: Bagaimana pendapat Anda mengenai keramahan pelayan dan kualitas pelayanan penerimaan mahasiswa baru? Pertanyaan ini adalah berganda, karena menanyakan dua hal sekaligus sehingga menyulitkan responden untuk menjawab. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan dua pertanyaan, yaitu pertanyaan mengenai keramahan pelayan dan mengenai kualitas pelayanan.
- Pertanyaan tidak Mengandung Sugesti Pertanyaan dalam kuesioner jangan mengandung sugesti yang menggiring responden agar menjawab sesuai dengan keinginan peneliti. Misalnya: (1) Atas jasa pelayanan Anda selama ini, apakah bonus perlu ditingkatkan? Jawabannya pasti lebih cenderung setuju; (2) Bagaimana kinerja Anda dalam tahun ini? Jawabannya pasti lebih cenderung baik.
- Tidak Menanyakan Hal yang Rumit. Sebaiknya, dalam setiap pertanyaan dalam kuesioner jangan menanyakan suatu hal yang kemungkinannya rsponden telah lupa atau pertanyaan tersebut membuat responden berpikir berat. Misalnya: (1) Menurut Anda, bagaimana kinerja pimpinan perguruan tinggi ini 25 tahun yang lalu? Mungkin pertanyaan ini tidak dijawab responden karena sudah lupa, atau memerlukan pemikiran yang lama; (2) Menurut Anda, bagaimana mengatasi krisis moral remaja saat ini? Jawaban pertanyaan ini memerlukan pikiran yang berat, kecuali penelitian ini mengharapkan pendapat ahli.
- Pembatasan Jumlah Pertanyaan. Jumlah pertanyaan dalam kuesioner jangan terlampau banyak, agar responden tidak sampai bosan memberikan jawaban, dan juga jangan terlalu sedikit agar hasil analisis data memadai. Pertanyaan disusun, sebaiknya langsung berkaitan dengan hipotesis dan tujuan penelitian berdasarkan kisi-kisi variabel. Karena jumlah pertanyaan yang terlampau banyak, cenderung banyak di antaranya tidak terpakai dalam analisis, meskipun telah banyak tenaga, waktu, dan dana yang digunakan untuk itu. Jika jumlah pertanyaan harus banyak, terutama bagi analisis data kualitatif, maka perlu dibuat jenis pertanyaan yang bervariasi. Dari hasil empiris, terutama yang menggunakan analisis kuantitatif, bagi penyusunan tesis disarankan jumlah pertanyaan yang memadai untuk setiap variabel penelitian adalah antara 15 s.d. 25 pertanyaan.
- Penampilan Fisik Kuesioner. Kuesioner senaiknya dicetak raoi dan jelas di atas kertas yang bagus, bila perlu kertas berwarna. Penampilan fisik kuesioner akan memengaruhi keseriusan responden untuk menjawab pertanyaan. Kuesioner yang dicetak di atas kertas buram atau dengan penulisan acak-acakan, akan mendapat respon yang tidak menyenangkan dari responden, yang mungkin akan memberikan jawaban asal-asalan.
- Pengelompokan Pertanyaan. Cara pengelompokan pertanyaan yang perlu diperhatikan adalah urutan yang cukup runtut, biasanya berdasarkan urutan dimensi-dimensi variabel yang telah dirumuskan dalam bab III skripsi atau tesis. Pengeleompokan pertanyaan dimulai dengan identitas dan demografi responden, kemudian disusul dengan pertanyaan sesuai dengan indikator masing-masing dimensi. Untuk pertanyaan yang bersifat sensitif, disarankan jangan ditempatkan di bagian awal karena dapat segera memengaruhi suasana proses pencacahan atau suasana wawancara tatap muka. Biasanya pertanyaan sensitif ditempatkan di bagian belakang,. Tetapi bukan pada bagian penutup agar proses tanya-jawab tidak diakhiri dengan perasaan yang kurang menyenangkan.
- Petunjuk Penyusunan Kata Pengantar. Setelah seluruh pertanyaan disusun, maka perlu membuat kata pengantar penyampaian kuesioner yang ditempatkan pada bagian teratas lembaran pertama. Isi kata pengantar ini, antara lain:
- Maksud dan tujuan mengadakan penelitian,
- Petunjuk pengisian kuesioner,
- Ucapan terimakasih kepada responden,
- Tempat dan tanggal pengisian kuesioner
- Kata pengantar diakhiri dengan pencantuman nama jelas dan tandatangan peneliti.
- Uji Coba. Kuesioner yang sudah selesai tersusun, dianjurkan agar dikonsultasikan dengan yang ahli di bidang ilmunya, atau didiskusikan terlebih dahulu dengan rekan-rekan sejawat yang menekuni disiplin ilmu yang sesuai. Setelah dinilai dapat dipergunakan, kuesioner tersebut sebaiknya diujicobakan pada beberapa responden yang berasal dari populasi, tetapi tidak termasuk sebagai sampel penelitian. Uji coba dilakukan untuk meningkatkan validitas dan reliabitas kuesioner sebagai alat pengumpul data. Dari kegiatan uji coba ini akan dapat diketahui kelemahan-kelemahan pertanyaan untuk diperbaiki dan disempurnakan. Oleh karen itu, responden dari uji coba itu diberi kesempatan untuk memberikan saran atau masukan untuk perbaikan kuesioner tersebut sebelum disebarluaskan kepada sejumlah responden sebagi sampel penelitian.
Sumber Pustaka
Silaen, Sofar dan Widiyono. 2013. Metodologi Penelitian Sosial untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta. In Media.